Postingan

Proletariat

   PADA suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.    Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan” , dan ”semi-proletariat” , kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial ”.    Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah uang dan hasrat, dan dengan itu banyak batas diterobos. Perempuan dari Utara itu, seperti ditulis China Daily, pada hari itu mengirimkan 30 mobil Mercedes-Benz ke bandara untuk menjemput hewan yang dipesannya.    Ia pasti salah seorang dari 835.000 orang miliarwan yang ada di Republik Rakyat yang berpenduduk sekitar 1.330.000.000 ini. Ia pasti bagian dari 0,06 persen warga yang hidup berkelimpahan dan tak merasa berdosa...

Manifest

  Di bulan Agustus 1963, sebuah dokumen ditulis dan diumumkan: ”Manifes Kebudayaan”. Ia dengan segera menimbulkan kontroversi yang heboh. Isinya dianggap ”kontrarevolusioner” oleh Lekra dan organisasi-organisasi kebudayaan dan politik yang diakui pemerintah waktu itu. Kemudian juga oleh Presiden Soekarno.    Pada 8 Mei 1964, dokumen itu—kemudian disebut dengan ejekan ”Manikebu” —dinyatakan ”terlarang” . Para penandatangannya, umumnya sastrawan, tak boleh menerbitkan karya mereka di mana saja. Di masa ”demokrasi terpimpin” , yang sudah membredel sejumlah surat kabar dan majalah dan memenjarakan sejumlah orang, misalnya Mochtar Lubis, larangan itu punya efek yang tak main-main. Jika hari ini saya menulis tentang dokumen itu bukan untuk mengungkapkan lagi represi yang terjadi masa itu. Saya menulisnya karena sebentar lagi 17 Agustus.    Inilah tanggal ketika kita umumnya mengingat apa yang diharapkan dari kemerdekaan yang direbut dan rep...

Dunia di Balik Jeruji: Kesaksian Perlawanan

Gambar
"Dunia di Balik Jeruji: Kesaksian Perlawanan" Mengkaji catatan bung Wilson dari penjara, saya ingin memulai dengan mengutip bebas ucapan Jusuf Kalla sebelum ia dilantik resmi menjadi wakil presiden. Apa yang diucapkan mencerminkan niat baiknya setika ia mengimbau agar pengalihan kepemimpinan nasional berlangsung santun dan damai, tanpa menghujat pimpinan yang mundur. Sesuatu yang agaknya diharapkan menjadi tradisi dalam prilaku kita berpolitik. Semua itu diperlukan demi rekonsialisasi bangsa, demikian harapan Jusuf Kalla.   "Dunia di Balik Jeruji: Kesaksian Perlawanan" Kata Pengantar                           Joesoef Isak    P enggunaan kata "menghujat" (menghujah) terasa seakan kita berada di wilayah agama, sehingga apabila kita menghujat maka kita telah membuat suatu dosa besar. Sebenarnya bukan hanya dari...

Selamat Jalan Pram

                                             PRAMOEDYA Jasad Pramoedya Ananta Toer diturunkan ke liang lahat. Tanah diuruk. Saat itu, sekitar pukul empat sore, separuh langit Jakarta gelap, udara hamil hujan—seakan-akan persiapan adegan akhir perkabungan di Karet Bivak itu. Sebuah lagu tiba-tiba terdengar, di-nyanyikan bersama dengan khidmat, terutama oleh mereka yang muda:                     Di negri permai ini                     Berjuta Rakyat bersimbah rugah                      Anak buruh tak ...

Des Alwi

    Des Alwi    Des Alwi adalah seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat. Juga berwarna-warni. Jika kita lihat lelaki ini duduk di bawah pohon ketapang berumur 100 tahun yang menaungi halaman hotelnya di Bandaneira, jika kita ingat sosok yang tambun tinggi itu sudah ada di tempat itu pada 1936 dan, sebagai anak kecil, melihat Hatta dan Syahrir jadi orang buangan yang turun dari kapal dengan paras pucat, kita bisa iri kepadanya: begitu banyak yang telah dilihatnya, begitu beragam pengalamannya, begitu pas ia di pulau Maluku itu. Begitu “Indonesia”.    Des Alwi seperti Bandaneira: elemen yang sering tak diingat, tapi saksi penting dari riwayat Indonesia—dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kemerdekaan. “Di sini,” kata Rizal Mallarangeng, yang telah dua kali ke Bandaneira dengan rasa kagum kepada para perintis kemerdekaan yang dibuang ke pulau itu, “bermula apa yang kemudian menjadikan In...

Kaki Langit

       Kaki Langit     DI makam pahlawan tak dikenal, kita diberi tahu: ada seorang yang luar biasa berjasa, tapi ia tak punya identitas. Ia praktis sebuah penanda yang kosong. Tapi hampir tiap bangsa, atau lebih baik: tiap ide kebangsaan, memberi status yang istimewa kepada sosok yang entah berantah yang terkubur di makam itu.   Orang yang pertama kali melihat fenomen itu adalah Benedict Anderson. Dalam Imagined Communities-nya yang terkenal itu, ia menulis: ”Betapapun kosongnya liang lahat itu dari sisa-sisa kehidupan yang fana dan sukma yang abadi, tetap saja mereka sarat dengan anggitan tentang ’kebangsaan’ yang membayang bagai hantu.”      Barangkali sebuah bangsa memang harus selalu menyediakan ruang kosong untuk sebuah cita-cita. Seperti kita memandang ke kaki langit yang sebenarnya tak berwujud, tapi kita ingin jelang. Sekaligus, barangkali sebuah bangsa membutuhkan bayangan yang bagai han...

Percepat Pemilu 2014

     Percepat Pemilu 2014 Dear All, Mungkin itu lah dipikiran kebanyakan rakyat yang kecewa sama SBY dan Partai Demokratnya, serta semua ELITE partai yang ada di MPR/DPR. Kalau boleh dijadikan satu kata...semua ELITE POLITIK telah mengecewakan rakyat!!! Apa alasannya? 1.  Mereka lebih sibuk 'bergontok-gontokan' daripada mengurus konstituen yang telah memilihnya 2.  Mereka lebih mementingkan kas partainya dibandingkan kondisi keuangan negara yang morat-marit diterjang badai penyelewengan. 3.  Mereka tidak jua merebut BUMN yang 'dijual' kepada pihak asing (Baca:Nekolim=Neokolonialisme dan Imperialsime), yang hanya merugikan negara dan bangsa Indonesia. Apa yang dulu didengung2kan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada setiap pidatonya tentang hati-hati terhadap Nekolim, telah terbukti sekarang.. ternyata pandangan duo proklamator itu sangat jauh kedepan... GANTUNG PARA PENJUAL NEGARA!!!!! 4....