Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ideologi

Sekuler

   Sebuah negeri mustahil berhenti menjadi plural tanpa pembunuhan. Terutama di awal abad ke-21. Persoalan yang kemudian dihadapi adalah apa artinya ”plural”, dan apa gerangan pula arti ”sebuah negeri”.    Jawabannya bukannya tak ada. Di Amerika Serikat dan Inggris, ”plural” berarti ”multikultural”. Majemuk berarti menghormati dan menjaga perbedaan adat-istiadat pelbagai paguyuban yang ada dalam negeri itu. Majemuk berarti tidak mengasimilasikan penduduk atau warga negara ke dalam satu kesatuan identitas yang baru setelah yang lama dilupakan.    Dalam pandangan ini, ”asimilasi” membuat bulu kuduk berdiri, seakan-akan sebuah penindasan, ketika akar-akar budaya seseorang dibabat dan pelbagai manusia dilebur ke dalam sebuah panci, untuk membentuk sebuah kebersamaan baru yang utuh dan sama rata sama rasa—sebuah keseragaman yang represif. Namun, pandangan multikulturalisme ini hanya salah satu jawaban bagi persoalan-persoalan kemajemukan di...

Sang Fundamentalis

        Jerry Falwell meninggal dalam umur 73 di kantornya pekan lalu, dan dunia kehilangan sebuah contoh yang baik tentang hubungan iman dan kebencian.    Falwell bukan orang galak dan bengis. Saya bayangkan ia, yang bertubuh gemuk dengan bentuk mirip bakpao, banyak ketawa, hangat, bicara kepada orang tanpa jarak. Tapi ada sesuatu dalam masyarakat tempat ia hidup—masyarakat Amerika di abad ke-20 dan awal ke-21—yang menyebabkan pendeta Kristen seperti Falwell, dengan Injil di tangan, secara luas didengar, didukung, dapat sokongan berjuta dolar, didekati kaum politisi tingkat nasional, justru ketika ia membawa berita yang muram, tapi paradoksal: Amerika adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, ”Yerusalem Baru,” tapi negeri ini sedang terancam, sebagaimana dunia sedang terancam. Musuh ada di mana-mana. Terorisme hanya salah satunya. Amerika harus diselamatkan.    ”Amerika”, bagi Falwell, adalah negeri orang-orang kulit ...

Proletariat

   PADA suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.    Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan” , dan ”semi-proletariat” , kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial ”.    Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah uang dan hasrat, dan dengan itu banyak batas diterobos. Perempuan dari Utara itu, seperti ditulis China Daily, pada hari itu mengirimkan 30 mobil Mercedes-Benz ke bandara untuk menjemput hewan yang dipesannya.    Ia pasti salah seorang dari 835.000 orang miliarwan yang ada di Republik Rakyat yang berpenduduk sekitar 1.330.000.000 ini. Ia pasti bagian dari 0,06 persen warga yang hidup berkelimpahan dan tak merasa berdosa...

" Negara Dan Revolusi " V.I Lenin

        Negara Dan Revolusi                V.I Lenin Jatuhnya Suharto oleh tekanan gerakan mahasiswa 1998, telah meninggalkan masalah besar dan berat yang harus ditanggulangi – politik, ekonomi dan sosial budaya. Selama 32 tahun, Suharto dengan Orbanya telah membangun kekuasaan yang otoriter, sentralistik, militeristik dan sekaligus feodalistik. Sistem kekuasaan yang dibangunnya itu telah membuat kedudukan negara/pemerintah sedemikian kuatnya, sedangkan rakyat sama sekali tidak berdaya. Partai-partai politik dan organisasi-organisasi rakyat di luar Golkar dipangkas dan dikebiri, padahal kekuatan rakyat terletak pada organisasinya.            Tidaklah heran, masa transformasi sistem dari kekuasaan yang otoriter, sentralistik dan militeristik ke kekuasaan yang lebih demokratis tidaklah semudah seperti yang diharapkan. Apalagi ka...